Senin, 13 Februari 2012

Lima Tokoh Dunia yang Akhirnya Menjadi Miskin

Menjadi tokoh dunia ternyata tidak selamanya memiliki uang yang berlimpah. Berbagai sebab menjadikan sejumlah tokoh dunia jatuh miskin. Di bawah ini terdapat lima orang contoh tokoh dunia yang jatuh miskin.

1. Christopher Colombus

Christopher Colombus mencapai kebesaran ketika tiba di Dunia Baru (New World). Tapi setelah pelayarannya yang ketiga ke Amerika, sponsornya yaitu Raja Spanyol, tidak puas dengan kinerja Colombus sebagai gubernur di koloni baru tersebut dan membawanya pulang dengan dirantai. Dalam 2 tahun terakhir hidupnya, penjelajah besar ini sering tidak punya uang untuk membeli makanan. Ia meninggal tahun 1506.

2. Thomas Jefferson

Thomas Jefferson pernah dua kali menjabat sebagai presiden Amerika Serikat. Ia juga menyusun naskah Declaration of Independence. Jefferson bangkrut sesaat sebelum meninggal ditahun 1826. Ia memiliki tanah seluas 10.000 hektar, tapi rekeningnya jadi merah karena mewarisi utang properti dari ayah mertuanya. Jefferson dipaksa menyerahkan semua kekayaan dan propertinya untuk melunasi hutang. Tongkat untuk jalan dengan pegangan emas dan jam tangan perak pun diambil sebagai pembayar utang.

3. Ulysses S. Grant

Ulysses S. Grant menjadi presiden Amerika Serikat dari tahun 1869 sampai 1877, serta sebagai jendral terbesar Union, membantu memenangkan perang Utara - Selatan. Cara mengelola bisnis yang buruk setelah ia meninggalkan kursi kepresidenan membuatnya bangkrut. Ketika meninggal di tahun 1885, ia bahkan kehilangan pedangnya karena dijadikan jaminan utang.

4. Wolfgang Amadeus Mozart

Jenius musik yang lahir di tahun 1756, menulis minuet pertamanya pada usia 5 tahun. Tapi para musisi yang bersaing dengannya membuatnya tidak bisa mendapatkan pekerjaan untuk meraih sukses finansial. Ia meninggal di usia 35 tahun dan dikubur di kuburan orang miskin tanpa batu nisan.

5. Vincent Van Gogh

Lahir pada tahun 1853, kini dianggap sebagai pelukis besar dunia dan karyanya banyak diburu kolektor lukisan. Tapi dia menderita penyakit jiwa dan selalu hidup melarat. Ia pernah menembak dirinya karena putus asa. Ketika meninggal di tahun 1890, dia sama sekali tidak dikenal dan seumur hidupnya hanya menjual satu lukisan, The Red Vineyard.

Setipis Kaca

Tulisan ini sebelumnya pernah gue posting tanggal 15/07/11

Siang ini gue makan siang di restoran cepat saji yang ada di kampus. Kegiatan yang biasa aja memang. Udah sering gue kerjain kok. Tapi mungkin yang nggak biasa pada hari ini adalah di sebelah gw duduk ada beberapa orang cleaning service yang ngeliatin gue udah lebih dari setengah jam.


Hari ini restoran cepat sajinya lagi gak rame, bisa dibilang lumayan kosong malahan. Sebenernya gue punya banyak pilihan tempat duduk, tapi gue milih tempat duduk yang pernah gue tempatin sebelumnya karena tempat yang sebenernya mau gue tempatin udah ada yang nempatin.

Dibilang cukup sering nempatin tempat duduk yang sekarang ini  gue tempatin, nggak juga. Gue pernah sekali nempatin tempat ini dan nggak pernah ada cleaning service yang nangkring di sini. Apa ya yang mau gue share hari ini? Bingung mulainya gimana. Mungkin gue coba dengan begini, betapa tipis dan transparannya setiap manusia itu dipisahin satu dengan yang lainnya. Ya, bayangin aja, cuma kaca tipis yang misahin antara gue dan cleaning service yang berdiri di sebelah gue. Di sini gue duduk kenyang dan nyaman karena abis makan dan suhu ruangannya nyaman. Sedangkan cleaning service di sebelah gue lagi berdiri menatap ke dalam tempat restoran cepat saji. Beberapa ada yang ngepel dan ngobrol-ngobrol sesama cleaning service. Hhh... kira-kira apa ya yang ada di dalam pikiran mereka? Apa mereka lagi mikir, "Wah, enak ya lagi duduk makan ayam di tempat yang adem. Sedangkan gue kerja ngepel-ngepel di toilet dan tempatnya nggak nyaman."

Selama ini gue mungkin sering banget nggak ngerasa seperti itu. Ngerasa kalau setiap orang yang ada di sebelah gue bisa beda begitu jauh sama gue. Dari kondisi dan situasi yang dialamin dan lain sebagainya. Hhhh..... ketika gue duduk di bis kota, trus ada anak kecil yang nyanyi-nyanyi, ngamen. Rasanya nggak ada sesuatu yang ngebatasin gue dan anak kecil itu, tapi rasanya betapa jauhnya dia dari gue. Hhhmm....

Korupsi

Postingan ini sebelumnya pernah gue tulis tanggal 26/05/11


Mau mulai nulis blog pertama ini dengan sesuatu yang tiba-tiba kepikiran ketika tadi, waktu nonton sebuah film di salah satu stasiun televisi.

Ingetnya sih sama si papi yang sering banget curhat dan sharing soal banyak hal. Salah satu yang sering banget diomongin sama si papi adalah korupsi. Di negara kita mungkin sekarang ini udah ada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang ngurusin soal korupsi, tapi secara pribadi sih gue masih sangat tidak puas sama hukum yang dijatuhkan kepada para koruptor itu.

Maling ayam sama koruptor kok hukumannya malah lebih lama maling ayam yang klo dijual harganya paling cuma Rp. 20.000,00. Sedangkan koruptor, sekali korupsi, mungkin uangnya bisa dipake buat ngasih makan orang sekelurahan. Hhhmm...

Dulu papi sering banget cerita kalau di PRC (People Republic of China), orang yang korupsi itu dijatuhi hukuman mati. Malahan zaman dulunya, yang ketauan korupsi, dihukum mati sekaligus sama keluarganya. Wah, keren banget kan. Gue sih sampe sekarang nggak tau apa dulu pernah ada hukuman kayak gitu. Hukuman yang sadis menurut gue. Tapii.... sekarang ini gue ngrasa klo hukuman kayak gitu patut diberlakukan. Ya memang sangat nggak manusiawi memang, tapi klo dipikir-pikir lagi, apa yang papi omongin ada benernya juga. Kenapa keluarganya harus ikut dihukum? Menurut si papi, kemungkinan kan orang yang korupsi itu karena tuntutan kebutuhan keluarga. Jadi, keluarga ikut menikmati hasil korupsi, bahkan keluarga di sini berperan dalam proses terjadinya korupsi.

Tadi liat film juga gitu. Seorang suami yang kerja sebagai kepala daerah korupsiin uang yang seharusnya dibagiin ke rakyat yang membutuhkan. Dia ngelakuin itu karena istrinya minta dibeliin mobil, perhiasan, perabot rumah tangga, dan lain-lain. Sedangkan gaji yang didapat sama suaminya nggak mungkin bisa dipake buat cover semua kemauan istrinya itu. Ya, alhasil si suami jadinya korupsi deehh... Ya, walaupun mungkin keluarga ga tahu menahu soal anggota keluarga yang lainnya yang korupsi. Tapi gue rasa sih klo zaman sekarang aja mah pasti keluarga nikmatin hasil korupsi. Pasti tahu juga, walaupun ga semua.

Sampe sekarang sih, intinya, gue setuju klo koruptor itu harusnya dihukum mati. Biar bisa memberikan efek jera. Selain sama orang lain, juga sama anggota keluarga koruptor. Biar tahu rasanya makanin uang yang bukan hak mereka.